Selasa, 08 April 2014

DIFTERI & IMUNISASI DPT

Difteri
Menurut Direktorat Jenderal PP&PL (2005), difteri adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penularan penyakit difteri melalui kontak fisik dan pernafasan. Gejala  awal penyakit adalah radang tenggorokan, hilang nafsu makan dan demam ringan. Dalam 2-3 hari timbul selaput putih kebiru-biruan pada tenggorokan dan tonsil. Difteri dapat menimbulkan komplikasi berupa gangguan pernafasan yang berakibat kematian. Pencegahan yang paling efektif untuk penyakit ini yaitu dengan memberikan imunisasi DPT.
Infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae biasanya terdapat pada faring, laring, hidung dan kadang pada kulit, konjungtiva, genitalia dan telinga. Infeksi ini menyebabkan gejala-gejala lokal dan sistemik, efek sistemik terutama karena eksotoksin yang dikeluarkan oleh mikroorganisme pada tempat infeksi (Rampengan, 1997).
Infeksi bakteri biasanya tidak invasif tetapi bakteri dapat mengeluarkan toksin. Toksin ini mempunyai efek patologik yang bisa menyebabkan menyebabkan orang menjadi sakit bahkan menimbulkan kematian. Difteri merupakan suatu penyakit akut yang bersifat toxin-mediated dan disebabkan oleh bakteri yang merupakan basil gram positif (Atkinson dalam Sitohang, 2002).
Sedangkan menurut Kandun (2006) difteri adalah suatu penyakit bakteri akut terutama menyerang tonsil, faring, laring, hidung, adakalanya juga menyerang selaput lendir atau kulit serta kadang-kadang konjungtiva atau vagina. Timbulnya lesi yang khas disebabkan oleh cytotoxin spesifik yang dilepas oleh bakteri. Lesi nampak sebagai suatu membran asimetrik keabu-abuan yang dikelilingi dengan daerah inflamasi. Tenggorokan terasa sakit, sekalipun pada difteria faucial atau pada difteri faringotonsiler diikuti dengan kelenjar limfe yang membesar dan melunak. Pada kasus-kasus yang berat dan sedang ditandai dengan pembengkakan dan oedema di leher dengan pembentukan membran pada trachea secara ektensif dan dapat terjadi obstruksi jalan napas.
Difteri hidung biasanya ringan dan kronis dengan satu rongga hidung tersumbat dan terjadi ekskorisasi (ledes). Infeksi subklinis (atau kolonisasi) merupakan kasus terbanyak. Toksin dapat menyebabkan myocarditis dengan heart block dan kegagalan jantung kongestif yang progresif,timbul satu minggu setelah gejala klinis difteri. Bentuk lesi pada difteri kulit bermacam-macam dan tidak dapat dibedakan dari lesi penyakit kulit yang lain, bisa seperti atau merupakan bagian dari impetigo (Kandun, 2006).
Difteri juga merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak-anak. Pada tahun 1930 di Inggris dan Wales, difteri merupakan penyebab kematian nomor 3 pada anak-anak yang berumur < 15 tahun (Atkinson dalam Sitohang, 2002). Penderita dengan dugaan difteri harus sesegera mungkin mendapatkan pengobatan dengan antitoksin karena antitoksin hanya efektif untuk menetralisir toksin difteri yang belum berkaitan dengan sel. Penderita juga harus diberi antibiotik dengan dosis yang tepat dan dirawat dengan teknik isolasi ketat. Terapi penunjang untuk mambantu pernapasan dan pembebasan jalan nafas perlu diberikan segera bila diperlukan (Hartono dalam Sitohang, 2002).

1 Etiologi
Penyakit difteri adalah penyakit akut dan mudah menular yang disebabkan oleh sejenis bakteri yang disebut Corynebacterium diphtheriae, sifatnya sangat ganas dan mudah menular. Ada tiga tipe varian dari Corynebacterium diphtheriae yaitu tipe mitis, tipe intermedius dan tipe gravis. Corynebacterium diphtheriae dapat diklasifikasikan dengan cara bacteriophage lysis menjadi 19 tipe. Tipe 1-3 termasuk tipe mitis, tipe 4-6 termasuk tipe intermedius, tipe 7 termasuk tipe gravis yang tidak ganas, sedangkan tipe-tipe lainnya termasuk tipe gravis yang virulen. Corynebacterium diphtheriae ini dalam bentuk satu atau dua varian  yang tidak ganas dapat ditemukan pada tenggorokan manusia, yaitu di selaput mukosa ( Direktorat Jenderal PP & PL, 2007).

2 Patogenesis
Seseorang dapat terinfeksi basil difteri karena daya tahan tubuhnya yang rentan. Basilus difteri yang toksik dapat hidup pada nasofaring, kemudian bakteri memproduksi toksin yang menghambat sintesis protein seluler dan menyebabkan kerusakan jaringan setempat dan terjadilah suatu selaput yang dapat menyumbat jalan nafas. Toksin yang terbentuk di selaput tersebut kemudian diabsorbsi ke dalam aliran darah dan dibawa ke seluruh tubuh. Penyebaran toksin ini berakibat komplikasi berupa miokarditis dan neuritis, serta trombositopenia dan proteinurea (Tumbalaka dalam Sitohang, 2002).
Bakteri biasanya berkembangbiak pada atau di sekitar permukaan selaput lendir mulut atau tenggorokan dan menyebabkan peradangan. Peradangan bisa menyebar dari tenggorokan ke pita suara (laring) dan menyebabkan pembengkakan sehingga saluran udara menyempit dan terjadi gangguan pernafasan (Sitohang, 2002).
Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah dari batuk penderita atau benda maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Ketika telah masuk dalam tubuh, bakteri melepaskan toksin atau racun. Toksin ini akan menyebar melalui darah dan bisa menyebabkan kerusakan jaringan di seluruh tubuh, terutama jantung dan saraf (Sitohang, 2002).
Toksin biasanya menyerang saraf tertentu, misalnya saraf di tenggorokan. Penderita mengalami kesulitan menelan pada minggu pertama kontaminasi toksin. Antara minggu ketiga sampai minggu keenam, bisa terjadi peradangan pada saraf lengan dan tungkai, sehingga terjadi kelemahan pada lengan dan tungkai. Kerusakan pada otot jantung (miokarditis) bisa terjadi kapan saja selama minggu pertama sampai minggu keenam, bersifat ringan, tampak sebagai kelainan ringan pada EKG. Namun, kerusakan bisa sangat berat, bahkan menyebabkan gagal jantung dan kematian mendadak. Pemulihan jantung dan saraf berlangsung secara perlahan selama berminggu-minggu. Pada penderita dengan tingkat kebersihan buruk, tak jarang difteri juga menyerang kulit (Sitohang, 2002).
Pada serangan difteri berat akan ditemukan pseudomembran, yaitu lapisan selaput yang terdiri dari sel darah putih yang mati, bakteri dan bahan lainnya, di dekat amandel dan bagian tenggorokan yang lain. Membran ini tidak mudah robek dan berwarna abu-abu. Jika membran dilepaskan secara paksa, maka lapisan lendir di bawahnya akan berdarah. Membran inilah penyebab penyempitan saluran udara atau secara tiba-tiba bisa terlepas dan menyumbat saluran udara, sehingga anak mengalami kesulitan bernafas (Sitohang, 2002).
Berdasarkan gejala dan ditemukannya membran inilah diagnosis ditegakkan. Tidak jarang dilakukan pemeriksaan terhadap lendir di tenggorokan dan dibuat biakan di laboratorium. Sedangkan untuk melihat kelainan jantung yang terjadi akibat penyakit ini dilakukan pemeriksaan dengan EKG (Direktorat Jenderal PP & PL, 2005).

3 Klasifikasi Difteri
Difteri dapat diklasifikasikan berdasarkan manifestasinya tergantung pada lokasi penyakitnya. Klasifikasi difteri antara lain:
a.    Difteri Hidung (Anterior nasal diphteriae)
Timbulnya difteri hidung sulit dibedakan dengan common cold dan biasanya ditandai dengan sekret hidung yang mukopurulen (mengandung mukus dan pus) yang kemudian berwarna seperti darah. Biasanya di septum nasa terbentuk selaput puti. Penyakitnya ringan karena di daerah ini sistem absorbsinya kurang baik sehingga toksin tidak terabsorbsi dan dapat disembuhkan dengan cepat dengan antitoksin dan antibiotik. Apabila tidak diobati, difteri hidung ini dapat meluas ke faring dan laring. Kasus ini hanya 2% dari semua kasus difteri (Atkinson dalam Sitohang, 2002).
b.    Difteri Tonsil dan Faring (Pharyngeal and tonsillar diphteriae)
Infeksi paling sering terjadi di daerah faring dan tonsil yang biasanya pada daerah ini terjadi absorbsi sistemik dari toksin. Onset faringitis tidak tampak namun membahayakan. Gejala awal lemas, sakit tenggorokan, anoreksia dan demam yang tidak tinggi (Atkinson dalam Sitohang, 2002). Dalam 2-3 hari terbentuk suatu selaput putih kebiru-biruan mulai dari bintik kecil di daerah tonsil yang kemudian akan menutupi palatum. Selaput sangat melekat pada jaringan sekitarnya dan apabila dilepaskan secara paksa dapat menyebabkan perdarahan. Selaput yang ekstensif dapat menyebabkan onstruksi saluran nafas. Pada keadaan ini penderita dapat sembuh namun apabila banyak toksin yang diabsorbsi maka penderita menjadi sangat lemah, pucat, denyut nadi cepat, stupor, koma dan dalam 6-10 hari penderita dapat meninggal (Hartono dalam Sitohang, 2002). Pada penderita yang berat dapat timbul edema di daerah submandibular dan leher bagian anterior disertai dengan limpadenopati sehingga tampak seperti leher sapi yang dikenal dengan bullneck (Sitohang, 2002).
c.    Difteri Laring
Difteri laring ini dapat berupa penyebaran dari difteri faring atau hanya daerah laring saja yang terkena. Gambaran klinis sulit dibedakan dengan obstruksi karena laringitis akut yang disebabkan oleh infeksi lain. Penyakit ini disertai panas dan batuk serta suara serak (Rampengan, dkk. 1997). Laring tampak merah, bengkak banyak sekreta dan terdapat pseudomembran yang luas. selaput yang terbentuk dapat menyebabkan obstruksi saluran nafas, koma dan kematian (Hartono dalam Sitohang, 2002).
d.   Difteri Lain
Difteri dapat terjadi di luar saluran nafas seperti kulit, konjungtiva, telinga dan vulvovaginal dapat terkena infeksi difteri. Difteri kulit ditandai ulkus berbatas jelas dengan dasar membran putih/abu-abu. Sedangkan difteri konjungtiiva mengenai konjungtiva palpebra edema dan adanya membran di konjungtiva palpebra. Untuk difteri telinga ditandai dengan adanya cairan mukopurulen yang persisten. Difteri vulvovaginal ditandai dengan ulkus dengan batas jelas (Rampengan, 1997).

4 Gejala Klinis
Masa inkubasi difteri umumnya antara 2-5 hari, walaupun dapat singkat hanya 1 hari dan lama 8 hari bahkan sampai 4 minggu (Rampengan, 1997). Gejala klinis difteri antara lain panas kurang lebih 380C, ada pseudomembrane putih keabu-abuan di faring, laring atau tonsil, tidak mudah lepas dan mudah berdarah, sakit waktu menelan, leher membengkak seperti leher sapi disebabkan karena pembengkakan kelenjar leher dan sesak napas disertai bunyi (stridor) (Sudarjat, 1997). Sedangkan tanda khas dari penyakit difteri adalah adanya tanda radang disertai adanya selaput yang berwarna putih kotor pada kerongkongan dan bila meluas ke tenggorokan dapat menyebabkan penyumbatan pada jalan napas. Pada kasus yang berat, terjadi pembengkakan disertai udem pada leher (Sudarjat, 1997). Menurut Direktorat Jenderal PP & PL (2005) gejala difteri diawali dengan nyeri tenggorokan ringan dan nyeri menelan. Pada anak tidak jarang diikuti demam, mual, muntah, menggigil dan sakit kepala. Pembengkakan kelenjar getah bening di leher sering terjadi.
Terdapat beberapa tanda atau gejala dari penyakit Difteri, antara lain (Depkes RI, 2003) :
1.      Panas > 380C
2.      Ada pseudomembrane putih keabu-abuan, tak mudah lepas dan mudah berdarah. Letak pseudomembrane bisa di pharynx, larynx atau tonsil.
3.      Sakit waktu menelan
4.      Leher membengkak seperti leher sapi (bullneck), disebabkan karena pembengkakan kelenjar leher.
5.      Sesak nafas disertai bunyi (stridor)
Tidak semua gejala-gejala klinik ini tampak jelas, maka setiap anak panas yang sakit waktu menelan (pharyngitis) harus diperiksa pharynx dan tonsilnya apakah ada pseudomembrane. Jika tampak pada tonsil pada sekitarnya membrane putih keabuan, walau tidak begitu khas rupanya, sebaiknya diambil sediaan (specimen) berupa apusan tenggorokan (throat swab) untuk pemeriksaan laboratorium.
Penularan penyakit terjadi melalui droplet saat penderita (saat carier) batuk, bersin, dan berbicara. Akan tetapi debu atau muntahan juga bias menjadi media penularan. Masa inkubasinya adalah 2-5 hari. Karier adalah orang yang terinfeksi bakteri pada hidung atau tenggorokan tetapi tidak mengalami gejala penyakit. Penyakit ini sangat menular ke teman sekolah satu kelas, teman bermain dan tetangga. Kuman difteri masuk ke dalam tubuh manusia melalui mukosa atau selaput lendir. Kuman akan menempel dan berkembang biak pada mukosa saluran nafas atas. Selanjutnya kuman akan memproduksi toksin yang merembes dan menyebar ke daerah sekitar dan ke seluruh tubuh dengan melalui pembuluh darah dan limfe (Widoyono, 2008).

5 Diagnosis
Selain berdasarkan gejala klinis yang dialami, diagnosis Difteri dapat diperoleh berdasarkan konfirmasi laboratorium. Sediaan (specimen) diambil dari penderita berupa apusan tenggorokan dengan jalan mengoleskan kappa lidi pada pharynx atau tonsil. Dan kalau ada membrane, membrannya harus diangkat sedikit, lalu kapas lidi dioleskan di tempat di bawah atau membrane dimana banyak kuman Difteri berkumpul. Sediaan (specimen) bias juga diambil dari luka kulit yang disangka Difteri kulit. Sediaan harus segera dikirim ke laboratorium untuk secepatnya diperiksa. Kalau tidak bisa, dapat disimpan dalam lemari es dengan temperature 40-500C, paling lama 2-3 jam (Depkes RI, 2003 dalam Savitri, 2009).
Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala klinik dan pemeriksaan laboratorium. Gejala klinik merupakan pegangan utama dalam menegakkan diagnosa, karena setiap keterlambatan dalam pengobatan akan menimbulkan resiko pada penderita. Secara klinik diagnosa dapat ditegakkan dengan melihat adanya membran yang tipis dan berwarna keabu-abuan, mirip seperti sarang laba-laba dan mudah berdarah bila diangkat. Sedangkan untuk pemeriksaan bakteriologis bahan yang diambil adalah membrannya sendiri  atau bahan di bawah membran. Bahan dibiak dalam Loffler, Tellurite dan media blood agar (Rampengan, 1997).

6 Pencegahan
Menurut Rampengan (1997), pencegahan yang dapat dilakukan terhadap penyakit difteri antara lain:
a.    Isolasi Penderita
Penderita harus diisolasi dan baru dapat dipulangkan setelah pemeriksaan kuman difteri 2 kali berturut-turut negatif.
b.    Pencegahan terhadap kontak
Anak yang kontak dengan difteri harus diisolasi selama 7 hari. Bila dalam pengamatan terdapat gejala-gejala maka penderita tersebut harus diobati. Bila tidak ada gejala klinis maka diberi imunisasi terhadap difteri.
c.    Imunisasi
Pencegahan terhadap difteri dapat dilakukan dengan pemberian vaksinasi, yang dapat dimulai pada saat bayi berusia 2 bulan dengan pemberian DPT ataupun DT. Diberikan 0,5 ml secara intramuskular. Imunisasi dasar diberikan sebanyak 3 kali pemberian dengan interval waktu pemberian 6-8 minggu. Ulangan dilakukan satu tahun sesudahnya dan ulangan kedua dilakukan 3 tahun setelah ulangan yang pertama (Rampengan, 1997).

 Imunisasi DPT
Imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan dideritanya. Sedangkan vaksin adalah suatu produk biologik yang terbuat dari kuman, atau racun kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan dan berguna untuk merangsang kekebalan tubuh seseorang (KepMenkes RI, 2005).

a. Imunisasi DPT
Vaksin DPT mengandung toksoid difteri, toksoid tetanus dan vaksin pertussis. Dengan demikian vaksin ini memberi perlindungan terhadap 3 penyakit sekaligus, yaitu difteri, pertussis, dan tetanus. Penyakit difteri dan tetanus disebabkan oleh toksin dan bakteri. Oleh karena  itu, dalam upaya pencegahannya (imunisasi) hanya diberikan toksoid yaitu toksin bakteri yang dimodifikasi sehingga tidak bersifat toksin namun dapat menstimulasi pembentukan antitoksin. Sementara penyakit pertussis, walaupun juga melibatkan toksin dalam patogenesisnya, memiliki antigen-antigen lain yang berperan dalam timbulnya gejala penyakit, sehingga upaya pencegahannya diberikan dalam bentuk vaksin.
Vaksin DPT dibedakan menjadi 2, yaitu DTwP dan DTaP berdasarkan perbedaan ppada vaksin tetanus. DTwP (Difteri Tetanus whole cell Pertusis) mengandung suspense kuman B. pertussis yang telah mati, sedangkan DTaP (Difteri Tetanus acellular Pertusis) tidak mengandung seluruh komponen kuman B. pertussis, melainkan hanya beberapa komponen yang berguna dalam pathogenesis dan memicu pembentukan antibodi. Vaksin DTaP mempunyai efek samping yang lebih ringan dibandingkan vaksin DTwP.
Vaksin DPT diberikan saat anak berumur 2, 4, dan 6 bulan. Setelah itu dapat dilanjutkan dengan pemberian vaksin kembali saat anak berumur 18 bulan, 5 tahun, dan 12 tahun. Dua hal yang diyakini sebagai indikasi kontra mutlak pemberian vaksin pertussis, baik whole cell maupun acellular, adalah riwayat anafilaksis pada pemberian vaksin sebelumnya dan ensefalopati sesudah pemberian vaksin pertussis sebelumnya.
Kejadian ikutan pasca imunisasi DPT dapat berupa reaksi lokal kemerahan, bengkak, nyeri pada tempat injeksi, ataupun demam. Kejadian ikutan yang paling serius adalah terjadinya ensefalopati akut atau reaksi anafilaksis dan terbukti disebabkan oleh pemberian vaksin pertusis (Permata, 2009).

b.  Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)
KIPI adalah kejadian medik yang berhubungan dengan imunisasi (vaccine related) ataupun efek samping, toksisitas, reaksi sensitivitas, efek farmakologis, kejadian kesalahan program, koinsidensi, reaksi suntikan atau belum diketahui (unknown).
Menurut Departemen Kesehatan (2005) dalam Savitri (2009), Kejadian Pasca Imunisasi adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa satu bulan setelah imunisasi, yang diduga ada hubungannya dengan pemberian imunisasi.
WHO membagi KIPI ke dalam tiga kategori, yaitu :
             1. Program related atau hal-hal berkaitan dengan kegiatan imunisasi, misalnya timbul bengkak bahkan abses pada bekas suntikan vaksin.
           2. Reaction related to properties of vaccines atau reaksi terhadap sifat-sifat yang dimiliki oleh vaksin yang bersangkutan, misalnya syncope (pingsan sekejap) yaitu gejala pusat, berkeringat.
              3.  Coincidental atau konsidental adalah dua kejadian secara bersama tanpa adanya hubungan satu sama lain. Misalnya anak menerima imunisasi, sebenarnya sudah dalam keadaan masa perjalanan penyakit yang sama atau penyakit lain yang tidak ada hubungannya dengan vaksin (Savitri, 2009).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar