Stasiun riuh membahana sore ini, ratusan orang berebut
udara di tempat ini, saling mendahului untuk berada di jalur 5, tempat
pemberhentian kereta Tawang alun. Jam dinding tua berdentang
kencang..teng..teng..menunjukkan pukul 14.00, artinya waktu menunggu kami para
calon penumpang semakin singkat 25 menit lagi.
Hari ini aku harus pulang meninggalkan adik perempuanku
di kota Malang, berat rasanya meninggalkannya di kota apel ini sendiri. Tapi
aku harus mampu, karena hari minggu sudah akan berakhir. Besok aku harus
menghadap dosen untuk menyerahkan revisi skripsi pada dosen pembimbingku. Ku
peluk erat adik perempuan yang sangat aku sayangi, Tyas. Satu-satunya adik yang
aku miliki. Dia lebih tinggi dariku, hingga sering kali orang menyangka dia
kakakku. Aku biasa menyebutnya putri kecil. Aku sangat menyayanginya. Aku tak
pernah bosan menceritakan pada teman-temanku tentang adikku ini, dia selalu
bisa membanggakan keluarga kami. Setiap bulan aku menjenguknya untuk
menggantikan orangtua kami, karena beliau-beliau yang renta sudah tak mampu
lagi jika harus melakukan perjalanan jauh.
Aku memeluk adikku erat..
“Baik-baik disini ya putri kecil, ingat ayah ibu di rumah,
buat kami bangga padamu, selalu”. aku mengakhiri kata-kataku dengan kecupan di
pipinya. Adikku yang manja ini pun tak mau kalah memelukku.
“Mbak, kalau skripsinya rampung sering-sering kemari nje”
ucapnya manja, tapi tetap menghormatiku sebagai kakaknya.
“Iya sayang, mbak usahakan secepatnya”, balasku mencoba
melegakannya.
Tampaknya
banyak mata yang iri pada kemesraan kami, aku dan adikku terkikik melihat mata
di sekitar kami. Hehehe...
Tut..tut...kereta api Tawang Alun datang..
Aku
pun memasuki kereta, berjalan menyusuri
gerbong, sampai aku sampai di gerbong 3, aku pun mulai pasang mata mencari
tempat duduk yang sesuai dengan nomor tiketku. Tak lama bagiku yang sudah
menjadi langganan kereta untuk mencari, alhamdulillah aku temukan, 11A. Aku senang jika duduk bersama
perempuan, lebih nyaman. Duduk di sampingku seorang ibu tua, sedangkan di
depanku sosok manis berkrudung merah tertidur lelap, menguasai bangku yang
harusnya untuk dua orang itu.
Ada yang tak biasa di perjalananku kali ini. Aku bertemu
dua wanita luar biasa. Ibu tua dengan goresan muka yang kasar. Garis-garis penuaan banyak di sisi
wajahnya, menandakan kesulitan hidup yang harus dia jalani. Aku yang tak pernah
bisa diam dan selalu ingin menyapa seseorang, mencoba untuk memberanikan diri
bertanya “ibu dari mana?”.
“Dari
Malang mbak”, jawab wanita tua itu.
“Aslinya
mana bu?”, aku masih ingin bercakap.
“Dari
Banyuwangi” jawabnya.
“Ada
acara apa bu di Malang?”, tanyaku lagi.
“Mengantar
anak saya berobat”, katanya.
Mungkin
sedikit tak sopan, tapi aku tetap bertanya “Sakit nopo bu?”
“Tumor
payudara”, jawabnya pelan.
Aku tesentak mendengar jawabannya. Aku melihat matanya
berkaca-kaca setelah itu. Aku mendekap tangannya. Mengelus pundaknya. Aku
mencuri pandang pada gadis cantik yang tengah tertidur lelap di depan kami. Mukanya
pucat. Tubuhnya kurus, bibirnya mengering, kulitnya tangannya yang putih ku
lihat mulai berkerut, terlihat lebih tua dari usianya. Ibunya bilang Airin nama
gadis manis dengan krudung merah itu.
Tak ku duga si ibu itu mulai menceritakan tentang
hidupnya. Aku yang masih menggenggam tangannya mendengarkan setiap rangkaian
kata yang beliau tuturkan.
“Saya
punya dua anak mbak, alhamdulillah Allah berikan saya sepasang anak perempuan
dan laki-laki. Suami saya stroke sepuluh tahun lalu. Saya yang banting tulang
untuk menghidupi keluarga. Saya berjualan kue di sekolah dasar dekat rumah,
untungnya tak seberapa tapi cukup untuk makan. Tapi alhamdulillah suami saya
PNS, jadi dapat gaji bulanan, bisa untuk menyekolahkan anak-anak saya”.
Aku kembali mengelus punggungnya. Aku merasakan getaran
disana. Si ibu itu mulai tersedu menceritakan kisah kelamnya. Aku yang tak tahu
harus berbuat apa, hanya bisa mengatakan “yang sabar nje bu, ini ujian..ibu
harus kuat. Ini cara Allah untuk meningkatkan derajat ibu sebagai manusia”
Si
ibu baik hati ini membalasku dengan senyum. Beliau pun melanjutkan ceritanya
kembali.
“Saya kaget mbak waktu tau Airin terkena tumor, saya tak
berhenti nangis seharian. Nasi tak bisa masuk melewati tenggorokan saya
berhari-hari. Saya ini punya asma, tidak bisa capek sedikit langsung kambuh.
Tapi capek saya hilang mbak untuk anak saya. Saya tak pernah lupa berdo’a dalam
tahajud. Seandainya saya bisa meminta, saya ingin menggantikan sakit anak saya.
Biar saya saja yang sakit, tapi kedua anak saya sehat”. Beliau masih saja
meneteskan air matanya, ku ulurkan selembar kertas tissue untuk menyeka air mata yang tak berhenti keluar dari pelupuk
matanya.
Airin terbangun..
Aku
yang sudah mengetahui namanya tetap bertanya..
“Mbak namanya siapa? Saya Marsha”. Ucapku memperkenalkan
diri, sambil mengulurkan tanganku padanya.
Dia
membalasku dengan senyum manisnya dan membalas uluran tanganku. Kami pun
bersalaman. Ku rasakan dingin ditangannya.
“Airin”.
“Semester berapa?” tanyaku.
“Semester 6, tapi saya ambil D3”, jawab Airin.
“Wah sudah TA ya, saya masih skripsi sekarang”
Senyum
simpulnya mengembang pelan..
“Iya, sudah ujian juga, tinggal ujian hidupnya”.
Dadaku kembali tesentak. Aku memandanginya, mencoba
merasakan suara hatinya, namun tak jua ku dengar. Dia yang tetap mampu
tersenyum walau tumor menggerogoti tubuhnya. Sama persis seperti ibunya, ya,
aku rasa dia mewarisi sifat tangguh ini dari ibunya. Hari ini aku mengenal dua
wanita tangguh. Alhamdulillah, sepanjang perjalanan di kereta ekonomi Tawang Alun
jurusan Malang-Banyuwangi kali ini, selama 3 jam aku belajar banyak tentang
kehidupan. Aku semakin mengerti tentang artinya hidup, kesabaran dalam
menghadapi cobaan dan tetap tersenyum dalam sakit.
“Saudaranya berapa?” tanyaku memecah keheningan.
“Saya cuma punya satu adik” katanya.
“Sama” balasku.
“Adikku laki-laki, namanya Eza. Aku sangat menyayanginya”,
katanya.
Aku pun tak mau kalah bercerita tentang si putri kecil
“Adikku juga satu, Tyas namanya, dia ini cantik sekali lho Airin. hehehe”,
kata-kataku ini membuatnya terkekeh. Sekejap saja, tapi aku senang melihatnya
berbinar. Suasanapun makin hangat saat kami berbincang tentang kuliah, masa
kecil kami, orang tua, hingga masalah cinta. Ternyata banyak hal yang sama
dariku dengan si manis Airin ini. Kami pun membicarakan semuanya dengan jujur.
Sesekali si ibu ikut tertawa jika ada yang lucu dari cerita kami.
Ku perhatikan mimik ibu tua itu, dia ingin larut dalam
obrolan kami, tapi tak bisa menyela kami yang berbicara tanpa putus seperti rel
kereta api. Untuk membuat ibu yang aku perhatikan ingin sekali ikut dalam
pembicaraan kami, ku coba menyela, membuat ibu mau berbicara dan tak hanya jadi
pendengar.
“Bu, bagaimana kalau kita kenalkan dik Eza dengan dik
Tyas? Biar kita saget jadi saudara”.
Airin
mendukungku “wah ide bagus tuh mbak” sahutnya. Gelak tawa kami kembali
meriuhkan gerbong 3, yang sudah mulai sepi penumpang. Banyak yang tidur
terlelap karena hari sudah mulai petang. Polisi khusus kereta api (POLSUSKA)
mulai berkeliling mengecek tiket setiap penumpang, sampai tiba giliran kami.
“Ini putrinya semua bu?” tanya si Polsuska.
“Bukan pak, anak saya yang kerudung merah” jawabnya. Aku
hanya tersenyum.
Ingatanku melayang ke rumah, membayangkan dua sosok renta
di sana yang pasti sudah menyiapkan sambal mangga kesukaanku. Orangtua yang
sudah dengan sabar membesarkan aku dan Tyas hingga bisa sebesar ini. Memberikan
kami kasih sayang yang utuh, memberikan pendidikan pada kami walau terseok
untuk biaya. Tapi aku selalu ingat pesan
bapak “nak, jaga adikmu dengan baik ya..bapak sudah tua, ibumu pun begitu, kami
tak bisa menghadiahi kalian harta
melimpah sebagimana orangtua lain mewariskan pada anak-anaknya, kami hanya bisa
memberi kalian pendidikan, karena sesungguhnya harta tidak akan dibawa mati
tapi ilmu yang akan kau bawa sampai akhirat nanti”. Kata-kata bapak ini yang
selalu bisa menjadi motivasi terbesarku untuk segera lulus, aku ingin sekali
bekerja dan membiayai keperluan ibu bapak dan juga sekolah adikku. Aku ingin
segera membayar hutang-hutangku pada mereka walau, ku tahu sampai kapan pun aku
tak akan pernah bisa mengembalikan apa pun yang telah mereka berikan. Kasih
sayang yang begitu besar untuk anak-anaknya.
Keretaku berhenti, sudah sampai stasiun
Jatiroto-Lumajang, itu artinya 1 jam lagi aku akan segera tiba di Jember.
Lamunanku buyar, aku kembali melihat ibu tua di sampingku.
“Sampai banyuwangi jam pinten bu? Pripun ke rumahnya?
Adakah kendaraan?” tanyaku beruntut.
“Jam setengah sebelas malam nak, nanti dijemput dik Eza
naik motor bertiga” jawabnya.
Dia melanjutkan penuturannya..
“Eza ini anaknya
baik mbak, sayang sama saya, lebih-lebih ketika tau mbaknya sakit begini. Dia
yang merawat saya ketika asma saya kambuh. Dulu dia diterima di salah satu universitas
negeri di kota Malang sana, namun tak dia ambil karena khawatir pada saya, jadi
dia ambil yang swasta di Banyuwangi sana. Dada saya sesak mbak melihat
pengorbanan Eza untuk saya, karena saya tau dia sangat ingin kuliah di sana.
Dia bilang lebih baik biaya kuliahnya untuk mengobati mbaknya”. Tampaknya dik
Eza ini laki-laki yang bertanggung jawab dan sayang keluarga, ibu ini pasti
bahagia mempunyai putra seperti dia. Hatiku makin tergelitik untuk berdo’a agar
suatu hari nanti Eza dan Tyas bisa bertemu, dan keluarga kami menjadi satu
dalam ikatan persaudaraan.
Aku menyodorkan tasbih pada si ibu tua itu. Tampaknya dia
mengerti isyaratku. Kami pun bershalawat bersama “Allhaumma shalli’ala muhammad, allahmumma shalli’alaikh”. Sudah
seratus kali, si ibu itu berkata padaku “adem di hati ya, nak”. Aku membalasnya
dengan senyum. “Dalam
setiap kesulitan pasti ada kemudahan bu, banyak-banyak baca al ikhlas dan al insyirah
saat ada cobaan dariNya”.
Si ibu itu
tiba-tiba mendekapku erat..
“Iya nak,
saya yakin akan janji-janjiNya, saya akan berusaha semampu yang saya bisa,
selebihnya saya serahkan semua padaNya”.
Aku memberikan dua jempol untuk
ibu tua itu “sipp, itu bu. Hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'mal natsir. Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah
sebaik-baik pelindung. Karena badai
pastilah berlalu, setelah
ada kesulitan pasti ada jalan keluar”.
Satu jam berlalu dengan percakapan kami, namun keretaku
sudah tiba di stasiun Jember, akupun berpamitan pada ibu itu, memeluknya erat
dan ku bisikkan “yang kuat, yang sabar ya bu”. Beliau mengelus pipiku, seraya
berkata..
“Iya, terimakasih nak sudah membuat anak saya tersenyum
sepanjang perjalanan”.
Aku memandangi Airin yang tampaknya tak rela jika aku
harus turun dan mengakhiri pembicaraan kami, aku pun memeluknya yang sudah
berdiri di depanku..
“Kita tukar nomor Hp ya Rin, nanti saya sms, kita
lanjutkan obrolan kita”. Dia mengambil Hp di sakunya “berapa nomor Marsha?”.
Ku sebutkan nomorku, selang beberapa detik Hpku sudah
berbunyi. Airin misscall ..
”Oke, aku save”.
Aku sudah berada di luar kereta, melihat kereta Tawang Alun
berjalan lirih, melanjutkan perjalanannya. Aku melihat kedua wanita hebat itu
melambaikan tangan di balik kaca kereta ekonomi yang sudah tak terang lagi. Aku
balas lambaian tangan mereka, senyum tak lupa aku sematkan.
Kini aku berjalan menuju rumahku yang tak jauh dari
stasiun, aku berjalan cepat. Bukan karena takut gelap malam, tapi aku ingin
segera mememui ibu bapakku, mendekap mereka erat. Mengucap banyak terimakasih
untuk pengorbanan mereka untukku dan adikku. Sesampainya di rumah akupun
langsung mewujudkan niatku. Kami larut dalam tangis haru. Ku membuka laptop,
menyambungkan koneksi internet agar kedua orang tuaku bisa melihat si putri
kecil dengan webcam. Alhamdulillah
kemajuan teknologi mendekatkan kami dengan si putri kecil di kota apel sana,
kami pun bercakap hingga larut. Adikku terlihat bingung melihat raut wajah kami
yang masih terlihat basah karena air mata yang sebenarnya sudah kami seka. Aku
bercerita tentang dua wanita hebat yang Tuhan kenalkan padaku di kereta hari
ini. Ceritaku memenangkannya, karena itu artinya kami menangis bukan karena
sedih tapi terharu atas semua takdir Tuhan. Perencana paling jempolan untuk
setiap umat yang diciptakanNya. Aku yang sadar diri hanya sebagai aktor di
dunia, mencoba memerankan diri sebagai yang telah dituliskanNya. Aku bahagia melihat
senyum mereka yang aku sayangi, bapak, ibu dan adikku. Sesungguhnya jika boleh
meminta, aku ingin keadaan membahagiakan seperti ini, ku ulang selagi aku
ingin. Setiap hari.
Sebelum tidur, aku bercakap pada bintang di langit, lewat
jendela yang sengaja tak ku tutup.
“Terimakasih untuk malam yang indah, untuk sinarMu di
setiap gelapku. Ya Tuhan, jagalah aku, orang tuaku, adikku, Airin dan ibunya.
Berikan kami kesehatan agar kami mampu menjadi yang terbaik untuk merengkuh
jalan surgaMu”.
Ku tarik selimut bulu sampai menutupi semua tubuhku, mataku
sudah tak lagi mau kompromi walau aku masih ingin berlama-lama menikmati
indahnya gemerlap bintang dan senyum sang sabit malam itu.