Kamis, 29 Mei 2014

CERPEN: SEBUAH PERJALANAN, SEBUAH CERITA



Stasiun riuh membahana sore ini, ratusan orang berebut udara di tempat ini, saling mendahului untuk berada di jalur 5, tempat pemberhentian kereta Tawang alun. Jam dinding tua berdentang kencang..teng..teng..menunjukkan pukul 14.00, artinya waktu menunggu kami para calon penumpang semakin singkat 25 menit lagi.
Hari ini aku harus pulang meninggalkan adik perempuanku di kota Malang, berat rasanya meninggalkannya di kota apel ini sendiri. Tapi aku harus mampu, karena hari minggu sudah akan berakhir. Besok aku harus menghadap dosen untuk menyerahkan revisi skripsi pada dosen pembimbingku. Ku peluk erat adik perempuan yang sangat aku sayangi, Tyas. Satu-satunya adik yang aku miliki. Dia lebih tinggi dariku, hingga sering kali orang menyangka dia kakakku. Aku biasa menyebutnya putri kecil. Aku sangat menyayanginya. Aku tak pernah bosan menceritakan pada teman-temanku tentang adikku ini, dia selalu bisa membanggakan keluarga kami. Setiap bulan aku menjenguknya untuk menggantikan orangtua kami, karena beliau-beliau yang renta sudah tak mampu lagi jika harus melakukan perjalanan jauh.
Aku memeluk adikku erat..
“Baik-baik disini ya putri kecil, ingat ayah ibu di rumah, buat kami bangga padamu, selalu”. aku mengakhiri kata-kataku dengan kecupan di pipinya. Adikku yang manja ini pun tak mau kalah memelukku.
“Mbak, kalau skripsinya rampung sering-sering kemari nje” ucapnya manja, tapi tetap menghormatiku sebagai kakaknya.
“Iya sayang, mbak usahakan secepatnya”, balasku mencoba melegakannya.
Tampaknya banyak mata yang iri pada kemesraan kami, aku dan adikku terkikik melihat mata di sekitar kami. Hehehe...

Tut..tut...kereta api Tawang Alun datang..
Aku pun  memasuki kereta, berjalan menyusuri gerbong, sampai aku sampai di gerbong 3, aku pun mulai pasang mata mencari tempat duduk yang sesuai dengan nomor tiketku. Tak lama bagiku yang sudah menjadi langganan kereta untuk mencari, alhamdulillah aku temukan, 11A. Aku senang jika duduk bersama perempuan, lebih nyaman. Duduk di sampingku seorang ibu tua, sedangkan di depanku sosok manis berkrudung merah tertidur lelap, menguasai bangku yang harusnya untuk dua orang itu.
Ada yang tak biasa di perjalananku kali ini. Aku bertemu dua wanita luar biasa. Ibu tua dengan goresan muka yang  kasar. Garis-garis penuaan banyak di sisi wajahnya, menandakan kesulitan hidup yang harus dia jalani. Aku yang tak pernah bisa diam dan selalu ingin menyapa seseorang, mencoba untuk memberanikan diri bertanya “ibu dari mana?”.
“Dari Malang mbak”, jawab wanita tua itu.
“Aslinya mana bu?”, aku masih ingin bercakap.
“Dari Banyuwangi” jawabnya.
“Ada acara apa bu di Malang?”, tanyaku lagi.
“Mengantar anak saya berobat”, katanya.
Mungkin sedikit tak sopan, tapi aku tetap bertanya “Sakit nopo bu?”
“Tumor payudara”, jawabnya pelan.
Aku tesentak mendengar jawabannya. Aku melihat matanya berkaca-kaca setelah itu. Aku mendekap tangannya. Mengelus pundaknya. Aku mencuri pandang pada gadis cantik yang tengah tertidur lelap di depan kami. Mukanya pucat. Tubuhnya kurus, bibirnya mengering, kulitnya tangannya yang putih ku lihat mulai berkerut, terlihat lebih tua dari usianya. Ibunya bilang Airin nama gadis manis dengan krudung merah itu.
Tak ku duga si ibu itu mulai menceritakan tentang hidupnya. Aku yang masih menggenggam tangannya mendengarkan setiap rangkaian kata yang beliau tuturkan.
“Saya punya dua anak mbak, alhamdulillah Allah berikan saya sepasang anak perempuan dan laki-laki. Suami saya stroke sepuluh tahun lalu. Saya yang banting tulang untuk menghidupi keluarga. Saya berjualan kue di sekolah dasar dekat rumah, untungnya tak seberapa tapi cukup untuk makan. Tapi alhamdulillah suami saya PNS, jadi dapat gaji bulanan, bisa untuk menyekolahkan anak-anak saya”.
Aku kembali mengelus punggungnya. Aku merasakan getaran disana. Si ibu itu mulai tersedu menceritakan kisah kelamnya. Aku yang tak tahu harus berbuat apa, hanya bisa mengatakan “yang sabar nje bu, ini ujian..ibu harus kuat. Ini cara Allah untuk meningkatkan derajat ibu sebagai manusia”
Si ibu baik hati ini membalasku dengan senyum. Beliau pun melanjutkan ceritanya kembali.
“Saya kaget mbak waktu tau Airin terkena tumor, saya tak berhenti nangis seharian. Nasi tak bisa masuk melewati tenggorokan saya berhari-hari. Saya ini punya asma, tidak bisa capek sedikit langsung kambuh. Tapi capek saya hilang mbak untuk anak saya. Saya tak pernah lupa berdo’a dalam tahajud. Seandainya saya bisa meminta, saya ingin menggantikan sakit anak saya. Biar saya saja yang sakit, tapi kedua anak saya sehat”. Beliau masih saja meneteskan air matanya, ku ulurkan selembar kertas tissue untuk menyeka air mata yang tak berhenti keluar dari pelupuk matanya.
Airin terbangun..
Aku yang sudah mengetahui namanya tetap bertanya..
“Mbak namanya siapa? Saya Marsha”. Ucapku memperkenalkan diri, sambil mengulurkan tanganku padanya.
Dia membalasku dengan senyum manisnya dan membalas uluran tanganku. Kami pun bersalaman. Ku rasakan dingin ditangannya.
“Airin”.
“Semester berapa?” tanyaku.
“Semester 6, tapi saya ambil D3”, jawab Airin.
“Wah sudah TA ya, saya masih skripsi sekarang”
Senyum simpulnya mengembang pelan..
“Iya, sudah ujian juga, tinggal ujian hidupnya”.
Dadaku kembali tesentak. Aku memandanginya, mencoba merasakan suara hatinya, namun tak jua ku dengar. Dia yang tetap mampu tersenyum walau tumor menggerogoti tubuhnya. Sama persis seperti ibunya, ya, aku rasa dia mewarisi sifat tangguh ini dari ibunya. Hari ini aku mengenal dua wanita tangguh. Alhamdulillah, sepanjang perjalanan di kereta ekonomi Tawang Alun jurusan Malang-Banyuwangi kali ini, selama 3 jam aku belajar banyak tentang kehidupan. Aku semakin mengerti tentang artinya hidup, kesabaran dalam menghadapi cobaan dan tetap tersenyum dalam sakit.
“Saudaranya berapa?” tanyaku memecah keheningan.
“Saya cuma punya satu adik” katanya.
“Sama” balasku.
“Adikku laki-laki, namanya Eza. Aku sangat menyayanginya”, katanya.

Aku pun tak mau kalah bercerita tentang si putri kecil “Adikku juga satu, Tyas namanya, dia ini cantik sekali lho Airin. hehehe”, kata-kataku ini membuatnya terkekeh. Sekejap saja, tapi aku senang melihatnya berbinar. Suasanapun makin hangat saat kami berbincang tentang kuliah, masa kecil kami, orang tua, hingga masalah cinta. Ternyata banyak hal yang sama dariku dengan si manis Airin ini. Kami pun membicarakan semuanya dengan jujur. Sesekali si ibu ikut tertawa jika ada yang lucu dari cerita kami.
Ku perhatikan mimik ibu tua itu, dia ingin larut dalam obrolan kami, tapi tak bisa menyela kami yang berbicara tanpa putus seperti rel kereta api. Untuk membuat ibu yang aku perhatikan ingin sekali ikut dalam pembicaraan kami, ku coba menyela, membuat ibu mau berbicara dan tak hanya jadi pendengar.
“Bu, bagaimana kalau kita kenalkan dik Eza dengan dik Tyas? Biar kita saget jadi saudara”.
Airin mendukungku “wah ide bagus tuh mbak” sahutnya. Gelak tawa kami kembali meriuhkan gerbong 3, yang sudah mulai sepi penumpang. Banyak yang tidur terlelap karena hari sudah mulai petang. Polisi khusus kereta api (POLSUSKA) mulai berkeliling mengecek tiket setiap penumpang, sampai tiba giliran kami.
“Ini putrinya semua bu?” tanya si Polsuska.
“Bukan pak, anak saya yang kerudung merah” jawabnya. Aku hanya tersenyum.
Ingatanku melayang ke rumah, membayangkan dua sosok renta di sana yang pasti sudah menyiapkan sambal mangga kesukaanku. Orangtua yang sudah dengan sabar membesarkan aku dan Tyas hingga bisa sebesar ini. Memberikan kami kasih sayang yang utuh, memberikan pendidikan pada kami walau terseok untuk  biaya. Tapi aku selalu ingat pesan bapak “nak, jaga adikmu dengan baik ya..bapak sudah tua, ibumu pun begitu, kami tak  bisa menghadiahi kalian harta melimpah sebagimana orangtua lain mewariskan pada anak-anaknya, kami hanya bisa memberi kalian pendidikan, karena sesungguhnya harta tidak akan dibawa mati tapi ilmu yang akan kau bawa sampai akhirat nanti”. Kata-kata bapak ini yang selalu bisa menjadi motivasi terbesarku untuk segera lulus, aku ingin sekali bekerja dan membiayai keperluan ibu bapak dan juga sekolah adikku. Aku ingin segera membayar hutang-hutangku pada mereka walau, ku tahu sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa mengembalikan apa pun yang telah mereka berikan. Kasih sayang yang begitu besar untuk anak-anaknya.
Keretaku berhenti, sudah sampai stasiun Jatiroto-Lumajang, itu artinya 1 jam lagi aku akan segera tiba di Jember. Lamunanku buyar, aku kembali melihat ibu tua di sampingku.
“Sampai banyuwangi jam pinten bu? Pripun ke rumahnya? Adakah kendaraan?” tanyaku beruntut.
“Jam setengah sebelas malam nak, nanti dijemput dik Eza naik motor bertiga” jawabnya.
Dia melanjutkan penuturannya..
 “Eza ini anaknya baik mbak, sayang sama saya, lebih-lebih ketika tau mbaknya sakit begini. Dia yang merawat saya ketika asma saya kambuh. Dulu dia diterima di salah satu universitas negeri di kota Malang sana, namun tak dia ambil karena khawatir pada saya, jadi dia ambil yang swasta di Banyuwangi sana. Dada saya sesak mbak melihat pengorbanan Eza untuk saya, karena saya tau dia sangat ingin kuliah di sana. Dia bilang lebih baik biaya kuliahnya untuk mengobati mbaknya”. Tampaknya dik Eza ini laki-laki yang bertanggung jawab dan sayang keluarga, ibu ini pasti bahagia mempunyai putra seperti dia. Hatiku makin tergelitik untuk berdo’a agar suatu hari nanti Eza dan Tyas bisa bertemu, dan keluarga kami menjadi satu dalam ikatan persaudaraan.
Aku menyodorkan tasbih pada si ibu tua itu. Tampaknya dia mengerti isyaratku. Kami pun bershalawat bersama “Allhaumma shalli’ala muhammad, allahmumma shalli’alaikh”. Sudah seratus kali, si ibu itu berkata padaku “adem di hati ya, nak”. Aku membalasnya dengan senyum. “Dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan bu, banyak-banyak baca al ikhlas dan al insyirah saat ada cobaan dariNya”.
Si ibu itu tiba-tiba mendekapku erat..
“Iya nak, saya yakin akan janji-janjiNya, saya akan berusaha semampu yang saya bisa, selebihnya saya serahkan semua padaNya”.
                Aku memberikan dua jempol untuk ibu tua itu “sipp, itu bu. Hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'mal natsir. Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. Karena badai pastilah berlalu, setelah ada kesulitan pasti ada jalan keluar”.
Satu jam berlalu dengan percakapan kami, namun keretaku sudah tiba di stasiun Jember, akupun berpamitan pada ibu itu, memeluknya erat dan ku bisikkan “yang kuat, yang sabar ya bu”. Beliau mengelus pipiku, seraya berkata..
“Iya, terimakasih nak sudah membuat anak saya tersenyum sepanjang perjalanan”.
Aku memandangi Airin yang tampaknya tak rela jika aku harus turun dan mengakhiri pembicaraan kami, aku pun memeluknya yang sudah berdiri di depanku..
“Kita tukar nomor Hp ya Rin, nanti saya sms, kita lanjutkan obrolan kita”. Dia mengambil Hp di sakunya “berapa nomor Marsha?”.
Ku sebutkan nomorku, selang beberapa detik Hpku sudah berbunyi. Airin misscall ..
 ”Oke, aku save”.

Aku sudah berada di luar kereta, melihat kereta Tawang Alun berjalan lirih, melanjutkan perjalanannya. Aku melihat kedua wanita hebat itu melambaikan tangan di balik kaca kereta ekonomi yang sudah tak terang lagi. Aku balas lambaian tangan mereka, senyum tak lupa aku sematkan.
Kini aku berjalan menuju rumahku yang tak jauh dari stasiun, aku berjalan cepat. Bukan karena takut gelap malam, tapi aku ingin segera mememui ibu bapakku, mendekap mereka erat. Mengucap banyak terimakasih untuk pengorbanan mereka untukku dan adikku. Sesampainya di rumah akupun langsung mewujudkan niatku. Kami larut dalam tangis haru. Ku membuka laptop, menyambungkan koneksi internet agar kedua orang tuaku bisa melihat si putri kecil dengan webcam. Alhamdulillah kemajuan teknologi mendekatkan kami dengan si putri kecil di kota apel sana, kami pun bercakap hingga larut. Adikku terlihat bingung melihat raut wajah kami yang masih terlihat basah karena air mata yang sebenarnya sudah kami seka. Aku bercerita tentang dua wanita hebat yang Tuhan kenalkan padaku di kereta hari ini. Ceritaku memenangkannya, karena itu artinya kami menangis bukan karena sedih tapi terharu atas semua takdir Tuhan. Perencana paling jempolan untuk setiap umat yang diciptakanNya. Aku yang sadar diri hanya sebagai aktor di dunia, mencoba memerankan diri sebagai yang telah dituliskanNya. Aku bahagia melihat senyum mereka yang aku sayangi, bapak, ibu dan adikku. Sesungguhnya jika boleh meminta, aku ingin keadaan membahagiakan seperti ini, ku ulang selagi aku ingin. Setiap hari.
Sebelum tidur, aku bercakap pada bintang di langit, lewat jendela yang sengaja tak ku tutup.
“Terimakasih untuk malam yang indah, untuk sinarMu di setiap gelapku. Ya Tuhan, jagalah aku, orang tuaku, adikku, Airin dan ibunya. Berikan kami kesehatan agar kami mampu menjadi yang terbaik untuk merengkuh jalan surgaMu”.
Ku tarik selimut bulu sampai menutupi semua tubuhku, mataku sudah tak lagi mau kompromi walau aku masih ingin berlama-lama menikmati indahnya gemerlap bintang dan senyum sang sabit malam itu.

Selasa, 20 Mei 2014

Nusantara



Nusantara..
Aku tau kau merindu kedamaian
Rindu sorak sorai rakyat yang berteriak akan kebangkitanmu
Namun kini..
Semua seakan tak peduli..
Jiwa-jiwa tak bertanggungjawab menggadaikanmu demi kesenangan dunia
Aku mendengar tangismu tiap kali tangan-tangan serakah merusak indah alammu
Dadamu sesak akibat asap hasil tangan-tangan serakah yang membakar hutanmu
Lumpur minyak pun kau muntah dari dalam perutmu
Kau guncangkan dirimu berulang kali
Kau berteriak keras lewat badai
Kau mengingatkan kemerdekaan padaku lewat debur ombak tsunami..
Aku tau itu semua tanda protesmu..luapan marahmu..

Duhai para kaula muda..tidakkah kau lihat tanda-tanda kerinduannya?
Mulailah perubahan demi bangsa berbatik ini
Berjuanglah semampumu..tunjukkan semangat merah putih
Menggenggam asa..
Terbang tinggi menembus langit
Mendekap keridhoan Azza wa Jalla
Mengulang kebangkitan di zaman milenia
Demi bumi pertiwi..