Duhai
kawan seperjuangan..rasa-rasanya baru kemarin dirimu bercakap penuh semangat “Dek..insyaAllah
kamis sempro.hehehe, datang ya”..aku pun tak mau kalah “Oh tentu saja, pokoknya
diundang ya, yuk..yuk..wisuda November sama’an yah..”..ku lihat kau mengangguk
penuh semangat. Senang mendengarmu bisa berteriak riang setelah perjuangan panjangmu.
Tapi tanggal 6 Juli lalu kabar yang menyentak hati terkirim lewat belasan pesan
singkat pagi itu..tak berhenti membunyikan ponselku. Meleburkan bahagia yang
terpancar dari wajah manis yang berkelebat lewat memori tentangmu. Semua pesan
singkat itu berisi tentang kabar tentangmu..tentang kepergianmu, untuk
selamanya.
Debaran
di dada mulai tak beraturan..keringat dingin mengucur di sekujur tubuhku,
kepalaku pening..ku pejamkan mata..kubuka lagi..ku pejamkan lagi, berharap ini
hanyalah sebuah mimpi dan kau masih bisa ku sapa di hari Senin, di kampus ungu
tercinta.
Rasa-rasanya baru kemarin..iya, tanggal 3 Juli lalu saat aku dan sahabat-sahabat terbaikku berbuka puasa bersama..kami yang selalu saja rempong berselfi ria kebingungan mengatur letak kamera, membuat gaduh..dirimu datang untuk merelakan diri membantu kami berfoto, ah lega rasanya. Duhai kawan, malam itu kau terlihat cantik dengan balutan kerudung coklat muda matching dengan baju yang kau kenakan, kau nampak lebih langsing..”Eh, cantik loh sekarang..langsing”, kataku. Seperti biasa kau selalu saja menjawabku “Ah adek..terimakasih, tapi nampaknya ini hanya kamuflase karena bajuku saja”. Kami pun tertawa mendengarmu. Tawa kita..aku dan keempat sahabat terbaikku..memecah heningnya malam karena candamu.
Rasa-rasanya baru kemarin kita saling bertukar cerita tentang pengalaman perjalanan kita, bercakap tentang adik kebanggaanmu “Tiara” yang gemar pramuka dan ingin jadi pemimpin bangsa ini, tentang dia yang kini bekerja di Kementrian Pariwisata..dan anganmu untuk mewujudkan mimpi di ibukota bersamanya. Masih teringat jelas, kita yang saling berbangga punya adik baik hati “Nay”..ah kadang aku iri padamu yang lebih dulu dekat dengannya, tapi sekarang tak ada yang ku ajak bertukar cerita tentang adikku itu..adik kita..adik kecintaan kita yang sesungguhnya tak pernah ku miliki.
Rasa-rasanya baru kemarin kau mengajakku jalan-jalan
Kamu: “Dek..dek..besok ikut ke
Niagara yuk, renang”
Aku: “Haduu..aku ngga bisa renang
nih”
Kamu: “Ngga apa-apa nanti tak
ajarin, yang penting kita seneng-seneng..lupakan sek revisian”.
Tanpa pikir panjang pun akhirnya
aku mengiyakanmu. Aku tak pernah menyesal pernah mengenalmu duhai kawan.
Mungkin aku tak kau kenang sebagai sahabat baik, namun setidaknya aku tak
pernah berusaha menyakiti hati lembutmu. Kau masih ingat kan tepat seminggu
sebelum kepergianmu..adikmu datang ke kos kita, ah aku iri sekali melihatmu
bisa memeluk adik kecintaanmu itu. Sekali lagi aku tak pernah menyesal
memberikan pinjaman terbaikku padamu, karena itu hal terakhir yang bisa aku
lakukan untuk menyenangkanmu.
Malam minggu kelabu, 5 Juli lalu..tak
bisa ku bayangkan bagaimana kau menahan sakit selama perjalanan menuju rumah
sakit, darah merah yang terus keluar dari kepala..rintihanmu..air mataku tak
tertahan. Ini takdirNya..semoga kau baik-baik disana dan tak lagi merasakan
sakit di sekujur tubuhmu.
Taukah dirimu kawan?..adikmu kini
dekat sekali denganku, dia yang selalu penuh semangat berkata padaku “Tiara
sekarang adiknya mbak Retno, Tiara mau belajar yang rajin biar bisa masuk
SMADA..buat mbk Lita bangga”. Aku tak akan merebut tempatmu kawan, namun kini
aku berusaha menjadi kakak terbaik untuk adikmu itu..adik kita..kini ada
dua..Nay dan Tiara. Kami bersepakat meneruskan mimpi-mimpimu kawan, khususnya
Tiara yang seringkali kau bilang ingin menjadi pemimpin masa depan. InsyaAllah.
Kabar kehilangan tentangmu membuat
dua adik kesayanganku itu tumbang..tak mampu bertahan..air matanya keluar tanpa
bisa ku tahan, aku hanya bisa mengatakan pada mereka “Mbk Lita pasti ditempatkan
di sisi terbaikNya, jangan terlalu ditangisi biar jalannya ngga berat..kita
perbanyak do’a ya sayangg”, kataku. Saat ku kabarkan berita tentangmu pada wali
kelas kita saat SMA dulu, bunda Moeljani..beliau terkejut, beberapa hari
sebelum kejadian malam itu..beliau seringkali teringat dirimu..beliaupun turut
berduka. Duka yang juga dirasakan para Shopomore (sebutan untuk kelas kita di SMA dulu)
dan juga para civitas akademika di kampus ungu (FKM). Sejujurnya, aku pun tak tahan..aku
juga ingin berteriak kencang..menangis sejadi-jadinya..harus melepasmu dengan berat
hati, tapi aku berusaha menghibur dua adik kesayangan kita.
Do’aku untukmu: Semoga kini kau
sudah bisa tersenyum karena adik-adikmu sudah merelakanmu pergi, tapi entah
bagaimana hati ibu dan ayahmu..semoga kau di tempatkan di tempat terindah yang
dimilikiNya, tolong sampaikan padaNya untuk menghapus duka para orang-orang
yang menyayangimu..
Sekali lagi..selamat tinggal
kawan..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar