Apa yang dimaksud dengan Herpes Genitalis??
Herpes Genitalis, umumnya disebut “herpes” adalah
infeksi virus oleh herpes simplex virus
(HVS) yang ditularkan melalui kontak intim dengan lapisan – lapisan yang
ditutupi lendir dari mulut atau vagina atau kulit genital dengan gejala khas
berupa vesikel yang berkelompok dengan dasar eritema dan bersifat rekurens
Etiologi
• Herpes genital disebabkan oleh
Herpes simplex virus (HVS) atau Herpes virus hominis (HVH), UNNA (1883) pertama
kali mengetahui bahwa penyakit ini dapat ditularkan melalui hubungan seksual
• Sedangkan SHARLITT (1940) membedakan
:
a)
HSV
tipe 1 (HSV – 1)
b)
HVS
tipe 2 (HSV – 2)
·
Umumnya,
penyebab yang sering
dijumpai adalah HSV – 2, namun walaupun demikian juga dapat disebabkan oleh HSV
– 1 (± 16,1%) akibat hubungan kelamin secara orogenital atau penularan melalui
tangan.
Patogenesis
Bila
seorang terpajan HSV, maka infeksi dapat berbentuk :
1)
Episode
I infeksi primer (inisial)
è
Virus
yang berasal dari luar masuk ke dalam tubuh hospes. Kemudaian terjadi
penggabungan dengan DNA hospes di dalam tubuh hospes tersebut dan mengadakan
multiplikasi/replikasi serta menimbulkan kelainan pada kulit.
è
Waktu
hospes sendiri belum ada antibodi spesifik, ini bisa mengakibatkan timbulnya
lesi pada daerah yang luas denga gejala konstitusi berat. Selanjutnya, virus
menjalar melalui serabut saraf sensorik ke ganglion saraf regional (ganglion
sakralis) dan berdiam disana serta bersifat laten.
è
Infeksi
primer biasanya terjadi seminggu setelah hubungan seksual (termasuk hubungan
oral atau anal). Tetapi lebih banyak terjadi setelah interval yang lama dan
biasanya setengah dari kasus tidak menampakkan gejala.
2)
Episode
I non infeksi primer
è
Pada
fase ini, infeksi sudah lama berlangsung tetapi belum menimbulkan gejala
klinis, tubuh sudah membentuk zat anti sehingga pada waktu terjadinya fase ini
kelainan yang timbul tidak seberat fase episode 1 dengan infeksi primer.
3)
Infeksi
rekurens
è Infeksi ini terjadi apabila terdapat
faktor pencetus (trigger factor), virus akan mengalami reaktivasi dan
multiplikasi kembali. Pada saat ini di dalam tubuh hospes sudah ada antibodi
spesifik sehingga kelainan yang timbul dan tidak seberat pada waktu infeksi
primer.
è Trigger factor tersebut antara lain
:
a)
Trauma
b)
koitus
yang berlebihan
c)
demam,
gangguan pencernaan
d)
stres
(emosi)
e)
Kelelahan
f)
makanan
yang merangsang,
g)
Alkohol
h)
obat
– obatan (imunosupresif),
i)
kortikostreroid,
dan pada bebrapa kasus sukar diketahui dengan jelas penyebabnya
4)
Asimtomatik
atau tidak terjadi terjadi infeksi sama sekali.
Gejala
dan Manfestasi Klinis
ü Manifesasi klinik dapat dipengaruhi
oleh faktor hospes, pajanan HSV sebelumnya, tempat infeksi, status imunitas
hospes, episode terdahulu dan tipe virus. Masa inkubasi umumnya berkisar antara
3-7 hari,tetapi dapat lebih lama.
ü Gejala yang bersifat berat didahului
rasa terbakar, gatal di daerah lesi yang terjadi beberapa jam sebelum timbulnya
lesi.
ü Setelah lesi timbul dapat disertai
gejala seperti malasiae, demam dan nyeri otot.
Lesi pada kulit berbentuk vesikel yang
berkelompok dengan dasar eritem. Vesikel ini mudah pecah dan menimbulkan erosi multiple
ü Pada infeksi inisial gejalanya lebih
berat dan berlangsung lebih lama. Kelenjar limfe regional dapat membesar dan
nyeri pada perabaan. Infeksi di daerah serviks, dapat menyebabkan beberapa
perubahan termasuk peradsangan difus,ulkus multiple sampai terjadinya ulkus
yang besar dan nekrotik. Tetapi juga bisa tanpa ada gejala. Penyembuhan
memerlukan waktu yang cukup lama, dapat 2-4 minggu. Sedangkan pada serangan
berikutnya penyembuhan akan lebih cepat.
ü Infeksi inisial dan rekurensi selain
disertai gejala klinis dapat juga tanpa gejala. Hal ini dapat dibuktikan dengan
ditemukannya antibodi terhadap HSV-2 pada orang yang tidak ada riwayat penyakit
herpes genetalis sebelumnya. Adanya antibodi terhadap HSV-1 menyebabkan infeksi
HSV – lebih ringan.
ü Tempat pada pria biasanya di preputium, glans penis,
batang penis, dapat juga di uretra dan daerah anal, sedangkan daerah skroktum
jarang terkena.
ü Lesi pada wanita dapat ditemukan di
daerah labia major/minor,klitoris, introitus vaginae, serviks.
Penatalaksanaan
1) Tindakan Profilaksin
- Penderita diberi pemahaman ttg sifat penyakit yg dpt menular
- Proteksi diri (busa spermisidal dan kondom)
- Menghindari faktor2 pencetus
- Kobsultasi psikiatrik
2) Pengobatan non spesifik
- Pemberian analgetika, antipiretik & atipruritus disesuaikan dg kebthan
- Pemberian zat – zat pengering yg antiseptik
- Antibiotika atau kotrimoksasol mencegah infeksi sekunder
3) Pengobatan Spesifik
- Asiklovir à bekerja hanya pada sel-sel yg terkena virus
- Valasiklovir à efek samping nyeri kepala & mual
- Famsiklovir à menghambat sintesis DNA
- Konsultasi psikiatrik
Pencegahan
a.) Pencegahan Primordial
ü Tidak melakukan free sex
ü Tidak berganti – ganti pasangan
ü Menjaga kebersihan organ genital
ü Menggunakan kondom saat berhubungan
seksual
b.) Pencegahan Primer
ü Penyuluhan tentang kesehatan
reproduksi
ü Pendidikan kesehatan reproduksi
melalui pendidikan formal
c.) Pencegahan Sekunder
ü Diagnosis dini melalui screening
ü Pengobatan pada penderita
d.) Pencegahan Tersier
Rehabilitasi dan perawatan
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar