Jumat, 13 Juni 2014

Surat Untuk Pemimpin Bangsa




Salam Nusantara.
Duhai Raja Diraja Nusantara..daku satu dari ribuan bahkan jutaan rakyatmu..dengarlah suaraku..suara saudara-saudaraku...
Kami telah bosan dengan janji-janji manis para wakil rakyat yang lenyap bersama waktu..tak kunjung menjadi nyata. Kami telah bosan dengan  berita korupsi, banjir di mana-mana, kebakaran di hutan Kalimantan, kemiskinan di Papua, lumpur panas di pulau Jawa dan hutang luar negeri yang tak kunjung terbayar. Kapankah kami bisa merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya?

Tidakkah kau dengar jeritan para fakir di sana?
Jangan pernah kau lupa ucapanmu sendiri duhai pemimpin bangsa. Jangan!. Harusnya kau tak lupa. Ulurkanlah tanganmu..gunakanlah hati dan akalmu. Harmonisasikan keduanya agar kau tahu apa yang rakyatmu inginkan.

Aku tahu, kau cukup mampu merubah negara ini. Duhai pemimpin bangsaku..tubuh tegapmu harusnya kau gunakan untuk  melindungi kami, rakyat yang lemah.

Jangan hanya mensejahterakan orang-orang yang kau kenal, kami ingin mengenalmu dari hati. Tidakkah kau tahu itu duhai pemimpin bangsaku?

Aku tahu..perubahan memang tak mudah. Tapi ini harus dimulai..tak akan pernah ada hasilnya jika kau tak mencoba. Mulailah menganggarkan dana lebih untuk para fakir..tuntaskan kemiskinan. Jangan hanya menaikkan gaji para wakil rakyat yang ternyata sungguh tak peduli dengan nasib kami. Investasikan para muda-mudi untuk menjadi penerus bangsa yang baik..dengan beasiswa pendidikan. Jangan terlalu percaya pada KPK, mereka hanya ingin dipandang hebat..menangkap orang-orang yang terkadang tak bersalah tapi melepaskan mafia negara, buatlah tim penyidik khusus untuk ini tanpa diketahui orang lain. Buat mereka menjadi sejenis agen anti korupsi rahasia, yang tau hanya dirimu dan orang-orang yang kau percayai.

Jangan lagi kau tambah panjang daftar penjualan aset negara ini pada bangsa asing, jangan lagi kau perpanjang masa sewa pertambangan asing di negeri ini. Tidakkah kau lihat antlantis ini sudah tak sehijau dulu lagi? Bumi Indonesia menangis..dia lelah dieksploitasi. Dia lelah bekerja untuk asing. Tidakkah kau tahu itu duhai pemimpin bangsaku?

Batasi impor ini itu. Buatlah Indonesia mandiri. Buatlah tim ahli di bidangnya masing-masing, ijinkan mereka menumpahkan ide-ide yang tak kalah hebat dengan para ilmuwan dunia untuk merubah nusantaraku. Janganlah terlalu mendengar bawahanmu yang sarannya tak menguntungkan rakyatmu..sungguh bukan apa-apa, kami hanya ingin hidup yang lebih baik..Indonesia yang lebih baik.

Terimakasih sudah meluangkan waktumu untuk  mendengar keluhan rakyatmu ini disela-sela waktu yang kutahu cukup padat sebagai pemimpin bangsa.

Harapku satu..semoga Indonesia di bawah kendalimu akan menjadi lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar