Selasa, 17 Juni 2014

Kota yang Mendamaikan Hati



Diriku terkukung kerinduan teramat sangat, namun tak mampu bergerak 1cm pun. Masih saja terbaring di sini dengan beberapa butir obat yang katanya bisa menguatkanku dengan cepat, nyatanya sudah seminggu kini. Setiap hari bertemu si jubah putih yang memberiku suntikan-suntikan tanpa bisa aku tolak, ya..diriku terlalu lemah. Hanya bisa bercakap dengan waktu dan memikirkanmu. Bolehkah aku membayangkan rupamu duhai kota yang selalu sukses berkongsi dengan damai dan rindu di hati? Jogjakarta..aku rindu dirimu..sangat-sangat rindu.
Masih teringat jelas pertama kali aku bermalam denganmu, kau suguhkan lantunan lagu Jawa di telingaku, awalnya aku takut karena hanya aku yang mendengar, namun ku tahu kemudian itu caramu menyambutku.. Kawanku berkata, “Itu tandanya kau diterima di sini, takdirmu di sini kelak”. Dia bak peramal masa depan, membuatku terkikik sejenak melihat gayanya. Perlahan senyumku mengembang, terselip harapan di hati..”semoga itu benar adanya”. Hujan rintik pun menyambut, yang ku tahu tentangnya adalah Tuhan kirimkan berkah bersama hujan..merubah yang kering menjadi segar, merubah yang layu menjadi segar, merubah yang tandus menjadi subur, mengubah yang kuning menjadi hijau. Dulu aku hanya mencintai hujan, namun kini aku pun jatuh cinta padamu. Jogjakarta.
Bila ada yang bertanya “Apa yang membuatmu begitu menyukai kota yang tak lebih indah dari bumi Sunda itu?”.
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu, berbisik pelan pada Jogjaku “Ssst..dia pencinta kota kembang, Bandung, tentunya dia tak mengerti tentangmu dan aku, bukan begitu? Hihihi”.
Tingkahku pasti membuatmu terkikik setiap saat, aku anak manusia yang begitu menyukaimu. Indah alammu...udaramu..dan energi kedamaian yang tak ku dapatkan di tempat lain..ya itu yang membuatku menyukaimu, teramat sangat. Kecintaanku padamu bertambah saat kau pertemukan aku dengan dirinya, si pemilik senyum termanis dari bumi Sunda. Di bundaran cinta UGM, begitu dia menyebutnya. Meski kini kenangan indah itu hanya ada dalam album kenangan yang tak mungkin terusik masa depan, tapi itu menambah kesenanganku padamu. Jogjakarta.
Taukah dirimu sekarang aku berjuang untuk bisa bangun lagi..aku lelah sebenarnya untuk mencoba kuat tapi harus tumbang lagi..lagi..dan lagi. Namun saat ingat janjiku padamu aku berusaha untuk bernafas..iya janji itu, “Tahun 2014 ini aku akan tinggal di sana, bekerja di sana, membawa ayah dan mama untuk menikmati alam Jogja”. Kau pasti dengar itu bukan? Semoga ^^.
Aku ingin segera bisa berlari..sekencang-kencangnya. Aku ingin segera bisa memakan apun tanpa larangan ini itu dari si Jubah putih. Aku ingin segera diwisuda..dan membawa secarik kertas hasil usahaku 4th ini ke tempatmu dan memenuhi janjiku.
Semoga sang penguasa waktu segera berdamai denganku, mempercepat yang baik, memperlambat yang buruk, jikalau bisa aku ingin dengan ujung jariku menghapuskan apa-apa yang melambatkan langkahku meraihmu.
                                                                                                                               

Salam Penuh Cinta, Jogjakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar