Diriku
terkukung kerinduan teramat sangat, namun tak mampu bergerak 1cm pun. Masih
saja terbaring di sini dengan beberapa butir obat yang katanya bisa
menguatkanku dengan cepat, nyatanya sudah seminggu kini. Setiap hari bertemu si
jubah putih yang memberiku suntikan-suntikan tanpa bisa aku tolak, ya..diriku
terlalu lemah. Hanya bisa bercakap dengan waktu dan memikirkanmu. Bolehkah aku
membayangkan rupamu duhai kota yang selalu sukses berkongsi dengan damai dan
rindu di hati? Jogjakarta..aku rindu dirimu..sangat-sangat rindu.
Masih
teringat jelas pertama kali aku bermalam denganmu, kau suguhkan lantunan lagu
Jawa di telingaku, awalnya aku takut karena hanya aku yang mendengar, namun ku
tahu kemudian itu caramu menyambutku.. Kawanku berkata, “Itu tandanya kau
diterima di sini, takdirmu di sini kelak”. Dia bak peramal masa depan,
membuatku terkikik sejenak melihat gayanya. Perlahan senyumku mengembang,
terselip harapan di hati..”semoga itu benar adanya”. Hujan rintik pun
menyambut, yang ku tahu tentangnya adalah Tuhan kirimkan berkah bersama
hujan..merubah yang kering menjadi segar, merubah yang layu menjadi segar,
merubah yang tandus menjadi subur, mengubah yang kuning menjadi hijau. Dulu aku
hanya mencintai hujan, namun kini aku pun jatuh cinta padamu. Jogjakarta.
Bila
ada yang bertanya “Apa yang membuatmu begitu menyukai kota yang tak lebih indah
dari bumi Sunda itu?”.
Aku
hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu, berbisik pelan pada Jogjaku “Ssst..dia
pencinta kota kembang, Bandung, tentunya dia tak mengerti tentangmu dan aku,
bukan begitu? Hihihi”.
Tingkahku
pasti membuatmu terkikik setiap saat, aku anak manusia yang begitu menyukaimu. Indah
alammu...udaramu..dan energi kedamaian yang tak ku dapatkan di tempat lain..ya
itu yang membuatku menyukaimu, teramat sangat. Kecintaanku padamu bertambah
saat kau pertemukan aku dengan dirinya, si pemilik senyum termanis dari bumi
Sunda. Di bundaran cinta UGM, begitu dia menyebutnya. Meski kini kenangan indah
itu hanya ada dalam album kenangan yang tak mungkin terusik masa depan, tapi itu
menambah kesenanganku padamu. Jogjakarta.
Taukah
dirimu sekarang aku berjuang untuk bisa bangun lagi..aku lelah sebenarnya untuk
mencoba kuat tapi harus tumbang lagi..lagi..dan lagi. Namun saat ingat janjiku
padamu aku berusaha untuk bernafas..iya janji itu, “Tahun 2014 ini aku akan
tinggal di sana, bekerja di sana, membawa ayah dan mama untuk menikmati alam
Jogja”. Kau pasti dengar itu bukan? Semoga ^^.
Aku
ingin segera bisa berlari..sekencang-kencangnya. Aku ingin segera bisa memakan
apun tanpa larangan ini itu dari si Jubah putih. Aku ingin segera diwisuda..dan membawa secarik kertas hasil usahaku 4th ini ke tempatmu dan
memenuhi janjiku.
Semoga
sang penguasa waktu segera berdamai denganku, mempercepat yang baik,
memperlambat yang buruk, jikalau bisa aku ingin dengan ujung jariku menghapuskan apa-apa yang melambatkan
langkahku meraihmu.
Salam Penuh Cinta, Jogjakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar